namgilminwoohae

Just another WordPress.com site

FF MY LOVE JOURNAL – Chap. 2 – Mr. X and Neighboor’s Ajusshi

FF MY LOVE JOURNAL – Chap. 2

Subtittle : Mr. X and Neighboor’s Ajusshi

 

Genre : Romance

 

Cast :

 

Cho Kyu Hyun

Shin Min Ki

Kim Jong Woon (Yesung)

Shin Yoon Hee

 

Rated : PG 17

 

Language : mixed, pls don’t be confuse

 

****

 

( SHIN MIN KI )

 

“hmm…” gumamku kala membaca salah satu artikel mentah yang akan masuk ke meja bossku, untuk disetujui. Judulnya sangat berkaitan erat dengan masalahku sekarang. “Tips untuk belanja pakaian secara hemat”

 

 

Aku mulai membaca, siapa tahu salah satu isinya dapat membantu masalahku, karena sang bitch boss yang memprotes penampilanku.

 

1. Daftar belanja…. Oke, aku mulai menulis rincian apa saja yang harus kubeli dan ketika selesai jumlahnya sudah mencapai 25 item.

 

2. Budget…. Aku secara kasar menaksir masing-masing barang dengan harga pasar, dan ketika kujumlahkan seluruhnya, angka yang tertera disana sukses membuat perutku mulas. Sehingga aku mencoret sebagian point pertama hingga hilang sebagian tapi tetap saja jumlah keseluruhannya membuat penyakit diareku kambuh.

 

3. Fokus…. Untuk point yang ini jelas aku memang fokus, tidak akan kubiarkan mataku lapar berbelanja ini itu tapi pada akhirnya membuat dompetku kurus kering.

 

4. Diskon… kadang-kadang diskon menjebak, kukira semua orang tahu itu. Seperti ibuku yang tergila-gila dengan diskonan sehingga membeli bahan-bahan kue dengan jumlah banyak tapi akhirnya mubazir karena tidak semua bahan dipakai, dan bernasib disimpan di pojok lemari, lalu riwayatnya tamat di tong sampah.

 

5. Cepat pergi… point terakhir membuatku tersenyum simpul, memangnya sesudah belanja kau mau apa? Bila tidak cepat-cepat pulang. Menginap semalaman di butik itu! lalu setelah malam tiba, kau keluar dari tempat persembunyianmu dan dengan bebasnya kau mencoba semua stok pakaian di butik tersebut, seolah kau menemukan surga.

Hahaha…. Daripada mengurung diri di butik, lebih baik aku terkurung di toko kue dan makan kue sekenyangnya.

 

Ahh…ini sama sekali tidak membantu!  Putusku.

 

Aku mendesah frustasi, tapi bila dipikirkan lagi perkataan Hea In-shi benar juga. Karyawan yang fashionista akan mewakili image baik majalah fashion yang dikelolanya.

 

Memikirkan hal ini terlalu keras, membuat perutku lapar. Kulirik jam di mejaku dan pantas saja perutku berontak minta diisi karena ini adalah waktunya makan siang. Akupun segera membereskan meja kerjaku seadanya dan meraih tasku lalu keluar ruangan.

 

Hah…nyaris saja aku lupa!! Kyu Hyun…

Dia minta ditraktir makan siang dengan cara tak lazim, nyaris pemaksaan. Dan tentunya aku tidak mau menyetujuinya begitu saja. Mengingat jumlah lembaran won yang harus dihemat.

 

Enggan bertemu dan ketahuan bahwa aku akan pergi makan siang, dengan terpaksa aku mengendap-ngendap keluar kantor dan segera berlari keluar gedung setelah mencapai lobby. Sedikit merepotkan sih…tapi demi mengingkari janji aku terpaksa melakukannya.

 

Kyu Hyun sebenarnya pria menyenangkan, dia cukup humoris dan juga tampan. Soal ketampanannya sudah teruji efektif dengan banyaknya gadis-gadis segedung kantorku, yang katanya naksir Kyu Hyun. Bahkan ada yang terang-terangan memberikan dia note atau bekal makan siang. Astaga…aku hampir tidak percaya!

 

Ternyata Kyu Hyun cukup popular sampai-sampai Mr. Giuseppe—fashion konsultan Allure, si pria setengah jadi, juga naksir Kyu Hyun.

Haha…aku sering terhibur sendiri kala Kyu Hyun terang-terangan menghindar sejauh mungkin  dari jamahan dan rayuan banci itu dengan wajahnya yang memerah karena marah sekaligus ketakutan.

 

Sepertinya cuma aku yang menganggap Kyu Hyun pria biasa tidak kelewat istimewa. Mungkin karena itulah, Kyu Hyun tampak dekat denganku, dan akupun hanya menganggap dia dongsaeng sekaligus rekan kerja karena  aku lebih tua 2 tahun darinya.

 

Aku berjalan sekitar 3 blok dari gedung tempatku bekerja, dekat dengan kawasan perbelanjaan elit Hongdae, mataku terpaku kala di seberang jalan sebuah butik Hazzard memasang tulisan “Crazy Sale – limited edition – discount up to 70%” dan iklan itu begitu menggodaku melambai-lambaikan tangannya menyuruhku untuk mendekat.

 

Bagai tersihir akupun mempercepat langkahku dan…

 

BRUGGG…..

 

Tanpa sadar aku menabrak tiang rambu lalu lintas sehingga tubuhku terpental ke belakang, lalu tergelincir karena jalanan licin oleh salju mencair—belum pulih kesadaranku….tiba-tiba tubuhku seperti ditabrak benda keras….mobil!! dan itu membuatku tersungkur jatuh ke bawah menimpa sebuah genangan air sehingga mantel musim dinginku pun basah.

 

BAGUS….

 

Ini adalah kecelakaan yang sangat sempurna menghancurkan jam makan siangku dan juga diskon itu…..

Kau sangat sial, Minki. Lihatlah dirimu, mungkin wajahku kusut sekarang. Kepalaku terasa pening karena membentur tiang lalu pinggulmu terasa patah karena tertabrak mobil juga pakaianmu yang basah kuyup.

 

SIAL….. dan siapa yang menabrakku? Mana orangnya?

 

“Agashi? Kau baik-baik saja?” tanya seorang pria dengan lembut dia berjongkok melihat kondisiku dan mencoba menolongku berdiri.

 

Aku mengulurkan tanganku agar bisa berdiri serta memalingkan wajahku untuk melihat pria itu.

dan tidak…!! Si pria itu—penolongku, adalah Mr. X yang super cute.

 

Hatiku berdetak kencang selain tidak menyangka bahwa dia menolongku, juga karena mengutuk diriku sendiri, aku yakin 100% pada saat ini wajahku sangat berantakan dan kurasa bukan saat yang tepat menampilkan penampilan burukku pada si Mr. X ini. Minki kau gadis ceroboh!! kutukku.

 

“Aku…ohh…” ucapku kala kurasakan kepalaku memang pening, dan saat kuraba keningku sedikit menonjol. Ahh…perfect! Ini benjol.

 

“Apa perlu ke rumah sakit?” tanyanya dengan wajah cemas.

 

Aku mengelengkan kepala. Menahan wajahku yang mendadak hangat dan sepertinya mulai menampakkan rona di pipiku. Melihat wajahnya saja sudah membuatku gugup setengah mati.

 

“Maaf, aku yang menabrakmu. Aku tidak sempat menghentikan mobilku karena kau mundur tiba-tiba setelah—“

 

“Tidak. Tidak apa-apa. Aku yang salah” sergahku cepat-cepat. Aku merasa malu jika dia mengatakan bahwa aku membentur tiang persis kejadian slapstick.

 

“Benarkah? Kau yakin tidak ada yang patah? Apa pinggulmu sakit? Dan pakaianmu juga basah. Ahh..ini salahku”

 

“Noona!!” tiba-tiba Kyu Hyun memanggilku. Aku menoleh pada arah suara Kyu Hyun dan wajahnya terlihat tidak senang.

 

“Apa yang terjadi?” tanya Kyu Hyun padaku. “Noona tampak kacau sekali”

 

“Apa agashi ini temanmu?” tanya si Mr.X

 

“Benar….ajushi, apa kau yang menabraknya? Seharusnya kau bawa dia ke rumah sakit” ujar Kyu Hyun tampak tidak bersahabat.

 

“Ah..tidak. Tidak perlu Kyu Hyun, sebaiknya kita pergi. Ajushi ini tidak bersalah, aku yang salah. Ayo!” tolakku kemudian mengajak Kyu Hyun, takut kalau Kyu Hyun menyalahkan si Mr. X-ku yang tampan.

 

Aku harus menghindar darinya, lebih cepat menghindar itu lebih baik karena aku termasuk orang yang sulit mengendalikan emosiku dan kegugupanku di depan orang yang kusukai, mr. X.

 

Mr.X—sebut saja demikian, karena ku tidak mengetahui namanya. Siapa dia? Apa pekerjaannya? Apa yang dia lakukan? Aku sama sekali tidak tahu. Dia menarik perhatianku selama satu bulan terakhir, setiap sore menjelang malam, aku selalu melepaskan penatku di Handel & Gretel. Ini termasuk hiburan buatku, yaitu nongkrong di café sepulang kerja. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan termasuk life style perkotaan—begitulah kata kolumnis urban.

 

Aku senang nongkrong di Handel & Gretel—abaikan harga secangkir latte yang diatas rata-rata, menurutku hal itu wajar. Karena, well…café ini sangat cozy, nyaman, dan juga stylish. Pengunjungnya rata-rata sosialita juga beberapa artis ternama. Aku senang memperhatikan tingkah dan sikap para pengunjung yang berinteraksi serta bergaul, memperhatikan mereka tertawa, mengobrol dan yang paling penting adalah gaya pakaian mereka.

 

Dan kemudian…suatu sore dua bulan yang lalu, tiba-tiba muncul sosok mengkilau seorang pria dengan pakaian yang super necis. Mungkin dia memakai satu stel jas Armani, dia muncul dihadapanku—tepatnya, tiba-tiba dia duduk di depanku mengambil kursi yang kosong disana.

 

“Agashi kau menunggu seseorang?” tanyanya tersenyum manis. Dan aku menggeleng dalam diam—terperangah. Pria ini tampan! Benar-benar tampan.

 

“Boleh aku duduk disini? Tempatnya sangat penuh. Aku tidak mendapat meja” katanya lagi masih tersenyum cerah—secerah semburat lembayung senja, aneh…kenapa mendadak jadi puitis.

 

Aku mengangguk tanda mempersilahkan.

 

Dan selanjutnya selama 2 jam kedepan, aku hanya diam seraya sesekali mencuri pandang pada pria yang didepanku ini. Dia sepertinya sangat sibuk menggunakan netbooknya, tidak ada basa-basi lagi atau sapaan pendek. Yah..mungkin dia memang sibuk dan menganggunya dengan pertanyaan kecil yang tidak penting bukanlah hal yang tepat, lagipula aku bukan termasuk orang yang ceplas ceplos.

 

Dan dua hari kemudian, aku menemukan pria itu lagi di Handel & Gretel. Tapi dia sudah duduk di meja lain, pria itu tidak mengenaliku sebagai gadis pemilik kursi kosong. Tapi aku mengingatnya dan segera setelah itu—pria yang kemudian kupanggil Mr. X menjadi objek hiburan favoritku. Aku senang memperhatikan dia yang tampak serius sekaligus kekanakan saat menghadapi netbooknya. Aku bahkan hafal pesanan favoritnya strawberry cheese cake, fruit tartlet dan secangkir caffe latte.

 

****

 

“Pakaianmu basah, noona” kata Kyu Hyun sesudah menyuruhku duduk di salah satu kursi di Handel & Gretel.

 

“Biar saja nanti juga kering” jawabku.

 

Kyu Hyun berdecak, dia kemudian mengitari mejaku dan membuka paksa mantelku, awalnya aku menolak tapi Kyu Hyun memberikan peringatan padaku agar aku menurut dengan membelalakkan matanya galak. Akhirnya mantelku kulepaskan dengan sukarela.

 

Kyu Hyun membuka mantelnya dan menyampirkannya ke bahuku. “sementara pakai punyaku…nanti kau kedinginan”

 

“terima kasih” jawabku. Membenarkan letak mantel Kyu Hyun agar lebih pas di tubuhku, wangi parfum Kyu Hyun yang samar tercium dari mantelnya.

 

“Aku pesankan coklat panas, agar noona kembali relax atas kejadian tadi” katanya kemudian memanggil pelayan.

 

“2 coklat panas dan….ehm….aku lapar. Aku pesan  pasta udang, lalu sup cream asparagus untuk appetizer, noona pesan apa?” tanya Kyu Hyun santai.

 

“samakan saja” jawabku.

 

“cihh…tidak kreatif” oloknya mencibir. Aku melotot padanya agar berhenti memprotesku.

 

“Oh..iya, kalian punya plester? Berikan  aku satu ya” pintanya pada pelayan. Si pelayan mengangguk kemudian berlalu.

 

“Noona, kenapa kabur dariku saat makan siang?” tanyanya mengejutkanku.

 

“eehh..kau tahu?”

 

“tentu saja! Kau mengendap-ngendap keluar dari ruanganmu lalu berlari sehingga terantuk tiang dan tertabrak”

 

“kau mengikutiku?”

 

“…kan aku menagih janji makan siang” jawab Kyu Hyun seraya mengangkat alisnya tersenyum jahil.

 

“apa?” tanyaku sedikit meninggikan nada suaraku. Makan siang di Handel & Gretel dan mentraktir magnae ini? Tuhan…uangku akan mengempis secepat kilat.

 

Aku mengacungkan tangan hendak memanggil pelayan, namun Kyu Hyun segera berdiri dari kursinya dan menurunkan tanganku. Tujuanku adalah aku akan mencancel pesananku dan memutuskan untuk puasa makan siang, walau perutku berontak minta diisi tapi demi menghemat gajiku, aku harus melakukannya.

 

“kau terlambat noona…masa pesanannya harus dicancel?”

 

Aku mencibirkan bibirku dan mendelik sebal, ‘siapa juga yang rela ikhlas mentraktir makan siang di Handel & Gretel. Kalau di kantor kantin itu lebih masuk akal!’ batinku teriak.

 

“ini plesternya, ajusshi…” ujar pelayan menyerahkan sebuah plester, entah untuk apa?

 

Kyu Hyun mengangguk mengucapkan terima kasih, kemudian mendekatiku dan menundukkan kepalanya nyaris dekat dengan wajahku. Aku bisa merasakan hembusan nafas Kyu Hyun menerpa kulit wajahku dan juga wangi tubuhnya yang semakin kuat mengelitik hidungku.

 

Matanya tampak serius memperhatikan keningku. “Ini pasti sakit” gumamnya, menekan pelan benjolan disana.

 

Jelas sakit, babo-ya… batinku. Aku meringis sedikit kala tangan Kyu Hyun menempelkan plester itu di keningku.

 

“Lain kali hati-hati” ucap Kyu Hyun pelan yang anehnya aku merasa mata Kyu Hyun menatapku dengan penuh perhatian dan lembut. Dari sekian banyak pertemuanku dengan Kyu Hyun, kali ini aku dapat jelas menangkap manik matanya. dan itu membuatku sedikit terkesiap….

 

Kyu Hyun ternyata memiliki pesona tersembunyi….. simpulku. Apakah aku mulai kagum padanya?

 

****

 

( SHIN YOON HEE )

 

“Untuk sementara ini kau belum boleh mencatat pesanan tamu” kata Yesung yang terngiang-ngiang di telingaku.

 

Aku sedang mengelap piring basah yang baru saja beres dicuci di dapur. Ingin rasanya aku memecahkan piring-piring yang menumpuk di depanku untuk melampiaskan rasa kesalku.

 

“Setelah jam makan siang adalah waktu happy hour, pengunjung tidak terlalu banyak. Jadi aku bisa mentrainingmu tata cara melayani pengunjung” lanjut Yesung.

 

Kembali aku mencibir mengingatnya, memang apa susahnya melayani pengunjung? Aku ini bisa dibilang sarat pengalaman dalam bekerja di café. Selama 1 tahun kebelakang, aku mengisi waktu luangku dengan bekerja shift di café. Jadi kurasa perintah Yesung sangat keterlaluan dan merendahkan jam terbangku.

 

Kalau saja aku tidak mengingat konsekuensi kontrak kerjaku dengan Handel & Gretel, pastinya aku akan mencampakkan celemek kehormatan ini dan melemparkannya di wajah Yesung sebagai tanda bahwa aku Shon Yoon Hee—tidak ingin bekerja disini, tepatnya tidak mau diintimidasi oleh perlakuan Yesung yang jelas-jelas menyiksaku.

 

Sikapnya yang sok galak dan sok berkuasa membuatku jadi berpikir bahwa diam-diam Yesung sedang menjalankan rencana balas dendam atas sakit hatinya padaku. Aku menghela nafas berat….ini tidak akan mudah. Ya, mungkin saja saat ini aku sedang menjalani hukuman karma.

 

Setahun yang lalu, aku masih mengingat tatapan kecewanya, matanya yang menunduk sedih saat kukatakan bahwa aku meminta putus karena merasa terbebani dengan hubungan kami yang hampir berjalan 3 tahun. Dan waktu itu, perasaanku benar apa adanya, aku memerlukan ruang bernafas untuk melepaskan bayang-bayang Yesung yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi.

 

Selama aku berpacaran dengan Yesung, dia selalu memperlakukan aku seperti anak kecil yang selalu dikawal kemanapun aku pergi. Dari antar jemput sekolah, pergi ke rumah teman, bahkan pergi sekedar jalan-jalan. Dan dia selalu disampingku.

 

Awalnya aku merasa senang, bahagia, dan merasa jadi gadis yang paling beruntung sedunia karena memiliki kekasih yang sangat melindungiku, sangat protektif dan sangat mencintaiku sehingga rela selalu berada di dekatku.

 

Tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya kami bertemu membuat aku bosan dan mencapai titik jenuh. Aku merasa terkekang, merasa tidak ada ruang bebas bergerak bahkan untuk hang out dengan teman-temanku rasanya sulit. Duniaku mulai terbentuk sempit—hanya aku dan Yesung. Aku bagai dipagari rantai tak kasat mata oleh Yesung di sekelilingku, sehingga membuatku sesak hanya karena kehadirannya.

 

Ya tuhan, umurku masih muda….aku memerlukan waktu untuk kuhabiskan dengan teman-temanku, untuk bergaul dengan mereka, tertawa lepas, bebas membicarakan cowo-cowo yang oke di sekitar kami, menggosip hal-hal yang terjadi sehari-hari. Dan semua itu tidak bisa kudapatkan dengan Yesung yang berseliweran di sekitarku.

 

Akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengannya, untuk menjalani dan ingin menikmati waktu single-ku dengan bebas. Bukan karena kehadiran pria lain seperti yang dituduhkan Yesung padaku, tapi aku tidak perduli dengan prasangkanya. Rasa jenuhku membunuh rasa cintaku padanya….

 

Apa aku salah?

 

“Hey….jangan melamun” kata Hyo Rin menepuk pundakku. “Kau bakal diomeli boss Yesung”

 

“Apa dia selalu bersikap seperti ini pada karyawannya?” tanyaku.

 

“Sebenarnya sih…dia boss yang cukup galak, bukan galak tapi disiplin. Mungkin karena café ini miliknya jadi dia ingin menyajikan yang terbaik”

 

“Aku hanya merasa perlakuannya berbeda padaku” keluhku.

 

“Haha….itu berarti dia masih ada rasa padamu”

 

“Heh? Rasa apa? Cinta? Cihh…tidak mungkin…dia ingin menyiksaku, aku tahu dia ingin membalas dendam”

 

“Wajar kan? sang mantan itu bagai mimpi buruk yang kadang-kadang menghantui tidur nyenyakmu”

 

“Tampaknya aku terjebak. Dan kaulah penyebabnya” tuduhku asal, setidaknya harus ada seseorang yang disalahkan bukan?

 

“Ehh….aku? mana kutahu Yesung itu mantan pacarmu? Oh iya sebagai bonus, boss bilang kau boleh membersihkan meja yang kotor dan kau dipanggil olehnya”

 

“Bonus?” tanyaku mengernyitkan dahi.

 

“setidaknya kau kan tidak perlu di diam di dapur seharian” ujar Hyo Rin terkekeh, kentara sekali sedang mengolokku.

 

Dan refleks aku melemparkan lap di tanganku ke punggungnya saat dia berusaha kabur, namun sialnya Hyo Rin lari dengan cepat. Dan lap-ku yang malang gagal melaksanakan tugasnya. Hufft…

 

Setelah menyusun piring dan peralatan makan lainnya dengan rapi, aku segera pergi ke depan dan si barista Rye Wook menahanku, wajahnya menunjukkan kelegaan kala melihatku.

 

“Ya…Yoon Hee-shi, untung kau datang” katanya tersenyum senang. Aku menyambut sapaannya dengan perasaan merasa dibutuhkan.

 

“Bantu aku mengambilkan cangkir-cangkir. Siang ini pengunjung lebih ramai. Mungkin karena di luar dingin jadi mereka memilih untuk menhangatkan diri dan minum kopi panas” katanya tanpa menoleh, ia kemudian serius dan cekatan mencampur bijih kopi di press machine coffee.

 

“mug yang bentuknya setengah bola itu untuk cappuccino, aku minta kau susun disini sebanyak 4 cangkir. Lalu siapkan creamer. Yang cangkir biasa letakkan di sisinya, aku minta 2 untuk expresso…”

 

Dan selanjutnya tanpa banyak bicara aku melakukan semua yang diperintahkan barista, berusaha tanpa mengeluh dan berpikir positif….

bekerja memang melelahkan tapi setidaknya aku berada di coffee pantry walaupun hanya untuk mengganti suasana sesaat, daripada terus diam di dapur cuci. Batinku mencoba bersyukur.

 

****

 

(SHIN MIN KI )

 

“Hmm….ini…sangat valuable…perfecto…” komentar Mr. Giuseppe saat melihat hasil belanjaanku dari toko diskon siang tadi. Aku berhasil mendapatkan dua potong barang yang terjatuh di box obralan, yang untungnya tidak dilihat oleh para pemburu diskon lainnya (baca : wanita yang mempunyai pola pikir belanja hemat sepertiku).

 

Sesudah makan siangku dengan Kyu Hyun di Handel & Gretel yang sangat menegangkan….karena kupikir aku harus membayar mahal makan siang ini. Tapi ternyata perkiraanku salah, Kyu Hyun membayarkan semua pesanan kami, tanpa aku duga sebelumnya.

 

Saat kutanyakan kenapa dia berubah pikiran mentraktirku dia dengan enteng menjelaskan bahwa siang ini dia sangat terhibur dengan tingkahku yang konyol dan melihat betapa indahnya benjolan yang nongkrong di jidatku. Dia bilang makan siang ini sebagai bayaran karena menghiburnya, dia mengatakan hal tersebut dengan tanpa dosa bahkan kerap terkekeh kala matanya memandang ke arah jidatku.

 

Dasar kurang ajar…..!! ini sama saja dengan tertawa di atas penderitaan orang lain!! Kyu Hyun….awas kau!!

Tapi berat hati aku menerima penghinaan Kyu Hyun dengan sabar, demi biaya makan siangku yang masih utuh.

 

Hatiku yang sewot segera menguap karena aku mendapatkan barang yang menurutku lumayan bagus dengan harga miring di toko diskon pembawa petaka tadi.

Oh iya…Kyu Hyun juga menemaniku dengan alasan takut aku menambah jumlah benjolan di jidatku karena kecerobohanku. Alasan yang menggelikan sekaligus mengesalkan, memangnya aku bayi yang baru bisa berjalan atau apa?

 

Ah..sudahlah…

 

“Perfecto? Jinjayo?” tanyaku tak percaya dengan mata berbinar.

 

“Jaket kisut cream tua ini berpotongan pendek pas sekali dikenakan untuk pakaian kerja casual. Kau bisa memakainya di free friday, kukira Nona Sok Sempurna itu tidak akan memprotesnya, juga ini…” Mr. Giuseppe mengacungkan slayer semi wol bermotif leopard merah matte.

 

“Bolehkah aku memimjamnya untuk pemotretan besok? Aku membutuhkan ini untuk melengkapi artikel fashion of the week” ucapnya seraya mengedipkan mata yang dikiranya sebagai jurus merayu andalan. Tapi gagal, kedipan matanya justru membuatku tertawa geli.

 

“Kau memerlukan ini?” tanyaku heran. Mr. Giuseppe mengangguk sok imut.

 

Aku menyeringai, ide cemerlang muncul di kepalaku “Baiklah, tapi Mister harus membantuku”

 

“Membantu apa?” tanyanya.

 

“Bolehkan kupinjam beberapa koleksi pakaian yang dipromosikan Allure? Maksudku bila sponsor memberikan beberapa contoh pakaian yang akan dipromosikan, aku akan meminjam cadangannya saja. Pakaian yang gagal masuk seleksimu?”

 

“Heh?” kening Mr. Giuseppe mengkerut.

 

“Sponsor akan memgambil kembali koleksinya dua minggu setelah majalah terbit, nah aku hanya memakainya sebelum mereka mengambil kembali. Percayalah padaku…aku akan berhati-hati” ucapku memohon.

 

“Hmm….baiklah. aku juga ingin lihat bagaimana pendapat Nona Sok Sempurna tentang perubahan penampilanmu. Kukira ini bisa dianggap kompetisi diam-diam kita”

 

“Benarkah? Mister mendukungku?” tanyaku tidak percaya karena ideku disetujuinya.

 

“Tapi dengan satu syarat” sergahnya, membuatku menelan ludah. Takut bila dia mengajukan syarat yang mengerikan. Karena semua orang tahu Mr. Giuseppe adalah termasuk manusia aneh, gender kelelakiannya yang meragukan dan juga sikapnya yang kelewat kemayu tapi memiliki insting yang kuat dalam mengendus trendsetter mode sehingga bagi Allure dia termasuk asset penting.

 

“Syarat apa?”

 

“Kau sangat dekat dengan Kyu Hyun bukan? Aku ingin mengenal dia….aku ingin tahu semuanya tentang dia”

 

“Kyu Hyun? Kenapa?”

 

“Karena kurasa aku menyukainya….” Jawabnya pelan menahan malu.

 

Aku melongo, mulutku membentuk O sempurna. Dasar maho sinting! Umpatku. Mana mungkin aku mau mencomblangi Kyu Hyun dengan pria gay ini.

 

“Tapi aku…ahh, ini tidak bisa, tidak mungkin….Kyu Hyun pria normal jadi mana bisa?” keluhku putus asa. Aku juga tidak rela Kyu Hyun dipacari pria lebih baik aku memacari Kyu Hyun sebelum pria ini menjamahnya.

 

“Aku tahu itu tidak mungkin. Aku bisa dibilang gila dan tidak waras kalau hal itu benar. Maksudku Kyu Hyun tidak perlu tahu kalau aku benar-benar menyukai, benar-benar mencintainya. Aku ingin mencintai dia diam-diam, itu sudah cukup bagiku. Tapi aku hanya perlu kau untuk tempat berkeluh kesah, jadi yeah…kau tahu maksudku….aku percaya kau tidak akan membocorkan rahasia ini seperti aku akan membantumu dengan pakaian sponsor” katanya diplomatis.

 

hah…aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah, jadi hanya menyukai sepihak. Dan kukira ini tidak masalah. Dan menjadikan diriku sebagai baskom penampungan curhatan maho ini, itu tidaklah sulit.

 

“Baiklah…kita deal. Bagaimana?” ucapku mengulurkan tangan.

 

Alih-alih menjabat tanganku dia malah memelukku erat dengan luapan terima kasih yang banyak.

 

“aku tahu kau orang yang sangat pengertian” katanya memuji.

 

aku menarik garis wajahku untuk tersenyum, seraya membatin. ‘mungkin beginilah bila kaum maho jatuh cinta…mereka amat sangat lebay…hah, mulai hari ini, hari-hariku akan dipenuhi dengan luapan cinta sang gay.

 

****

 

( SHIN YOON HEE )

 

Aku mengganti pakaian kerjaku dengan pakaian biasa untuk pulang. Jam di dinding ruang loker karyawan sudah menunjukkan jam 20.00. Hari ini aku menghabiskan waktu seharian di Handel & Gretel dengan bekerja ini itu, berdasarkan jadwal pembagian shift seharusnya jam kerja ku sudah selesai sejak jam 15.00 sore, tapi karena hari ini adalah hari pertama masuk kerja dan kata Yesung, aku diharuskan pulang lebih lama untuk orientasi lingkungan kerja.

 

hah…alasan apa pula itu? Bilang saja dia sengaja menahan waktu pulangku dengan alasan tidak masuk akal seperti itu. Harusnya penambahan kerja seperti ini termasuk lembur tapi dia dengan enteng mengatakan bahwa agar aku dengan cepat mengenal kondisi dan lingkungan kerja. Agar esok, aku tidak perlu canggung dalam menangani pekerjaan.

 

Come on…semakin lama ternyata semakin menyebalkan. Ini hanya pekerjaan seoran pelayan shift. Seandainya hal ini berlangsung terus menerus dengan alasan yang aneh-aneh aku bersumpah akan melaporkan Handel & Gretel ke kantor Departemen Tenaga Kerja karena pemerasan tenaga kerja dengan tidak layak. Awas saja….

 

Badanku terasa pegal dan kakiku seperti rontok, leherku menjadi sedikit kaku. Aku menguap karena aku benar-benar letih. Aku sudah tidak sabar kembali pulang ke rumah untuk mandi air hangat, makan kue buatan ibu serta susu coklat panas. Lalu membaringkan tubuhku di atas kasurku yang lumayan empuk. rasanya hal kecil semacam itu sudah menjadi surga untuk tubuhku yang lelah.

 

Aku meregangkan tubuhku dan memijit pelan leherku ketika seseorang dari belakang tiba-tiba menyodorkan sekaleng bir dingin merek Cass—merek bir favoritku. Aku menoleh ke belakang dan melihat bahwa Yesung lah yang memberikan minuman tersebut.

 

“Ini untukmu, anggap saja sebagai hadiah hari pertamamu” ucapnya dengan wajah dinginnya, seperti menahan buang angin—menurutku.

 

“Apa ini?” tanyaku menanyakan maksud dari pemberiannya, terlebih lagi dia menyodorkan bir yang selalu kuminum saat aku masih pacaran dengannya.

 

“Sudah kubilang kan anggap saja sebagai hadiah hari pertamamu” jawabnya.

 

“Ini kan…” selaku seraya menunjuk kaleng bir yang masih berada di genggamannya.

 

“Ada yang aneh?” katanya menyipitkan mata.

 

“Mereknya” kataku.

 

“Ah iya…merek birnya, aku tahu dan masih ingat ini merek bir kesukaanmu kan?”

 

Aku mengangguk, dia ingat! dia masih ingat. Apakah mungkin ia masih mempunyai rasa itu? Rasa cinta padaku? tanyaku membatin.

 

“jangan ge-er!” ucapnya menahan tawa. “Handel & Gretel hanya menerima merek bir ini, karena kami berkerja sama dengan pemasoknya. Jadi aku tidak menemui merek lain di kulkas kami” lanjutnya, mengahncurkan prasangkaku.

 

“ehm….kebetulan. Iya benar, ini merek umum dan terkenal, tentu saja” ucapku gugup menutupi bahwa tadi aku sempat berharap banyak.

 

“Hari pertama memang selalu berat, dan kau pasti lelah. Besok jangan lupa kau harus datang tepat waktu dan tidak boleh terlambat” ujarnya sok tegas.

 

Aku mengangguk seraya menyesap birku. Dan Yesung pun berlalu dari hadapanku.

 

Barusan itu, aku sempat mengkhawatirkan diriku sendiri yang masih merasa bahwa aku masih terikat dengannya. Kemudian dengan keras aku menolak pikiran semacam itu,

‘tidak yoonhee…jangan berpikir kau akan kembali pacaran dengannya. Ini sama saja seperti kau jatuh ke lubang yang sama’

‘Tampaknya aku harus mencari pacar baru…masalahnya aku tidak akan tahan bila ternyata Yesung punya kekasih baru setelah aku’ batinku.

 

****

 

Malam ini memang sangat dingin, kukira suhu udara mencapai 5 derajat celcius. Nafasku mengeluarkan uap panas yang putih, saat kurapatkan mantelku. Tinggal beberapa meter lagi menuju pintu masuk appartemenku, tiba-tiba kulihat sosok pria yang berjalan sempoyongan di depanku.

 

“Dasar pemabuk” gumamku sinis. Aku berjalan sedikit menjauh agar menghindari si pria itu menabrakku. Namun tak lama kemudian diapun terjatuh terlentang, dan bisa kulihat jelas wajah si pria itu. Lee Sung Min—salah satu tetanggaku.

 

Tidak pernah sekalipun aku melihat dia kacau seperti ini, karena aku cukup mengenal Sung Min dengan baik. Kami tertangga dekat, dia baru saja pindah ke sebelah appartemen kami 1 tahun yang lalu. Walaupun ia jarang membeberkan kehidupan pribadinya, tapi dia sangat ramah dan amat akrab dengan ibuku. Karena ia pelanggan setia kue buatan ibuku.

 

Setahuku dia bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan besar, info itu kudapat dari ibu tentunya. Dan ibu sangat antusias sekali menjodohkan dia dengan kakakku, mengingat kakakku menjadi sangat tertutup untuk membuka hatinya pasca peristiwa itu. Jadi ibu sangat mencemaskan kehidupan percintaan kakakku yang suram.

 

“Sung Min-shi…” panggilku berusaha membangunkan dia yang terlentang di jalan menuju appartemen.

 

dia mengerang pelan kemudian membuka matanya perlahan, “ahh…Yoon Hee…” gumamnya.

 

“Kau mabuk, Sung Min-shi?”

 

“Benarkah?” tanyanya mengfokuskan kekuatan tubuhnya agar bangkit dengan susah payah. Aku secara refleks membantunya berdiri dengan menopang lengan atasnya.

 

“Sini kubantu…ayo kita pulang” ajakku atas asas kemanusiaan dan kehidupan bertetangga, aku merasa harus membantunya.

 

“Mana kuncinya?” tanyaku setelah sampai di lantai 5. Yang ditanya malah merosot terduduk di bawah, dia tampak mabuk berat.

 

Melihat dia mabuk seperti itu merupakan pemandangan yang langka bagiku, karena biasanya dia selalu tersenyum ramah dan menyapaku seadanya bila kebetulan bertemu. Lagipula sulit menolak senyum dari wajah tampan cutenya.

 

Tubuhnya nyaris lunglai kebawah dan dia hanya menunjukkan tangannya ke arah saku di balik jasnya, tanpa mampu mencari kunci yang kuminta.

 

Jadi dia bermaksud agar aku mencari kuncinya di dalam sakunya sendiri? Pikirku. Hah…bikin repot saja, omelku dalam hati. Walau sedikit canggung tapi didorong ingin menyelesaikan  misi menolong Sung Min-shi, akhirnya aku meraba-raba saku jasnya.

 

tarikan nafasnya yang berbau alcohol menyengat hidungku saat aku menundukkan kepalaku, berada sedekat ini dengan Sung Min membuat kecanggungannku berganda, aku bisa melihat garis wajahnya yang melekuk sempurna, cukup tampan pujiku dalam hati.

 

“Huh…akhirnya” aku menghembuskan nafas lega kala berhasil mendapatkan kuncinya dan segera membukanya.

 

Sekali lagi aku membopong tubuh Sung Min, sebenarnya posisiku nyaris mirip dengan menyeretnya. Jangan salahkan aku, bukankah aku sudah berbaik hati dengan membawa dia ke rumahnya?

 

“Nah…sudah…” ucapku kala berhasil mengangkat Sung Min ke atas sofa di appartemennya. “Lain kali kalau mabuk jangan sampai merepotkan orang lain” omelku pada Sung Min yang terbaring di sofa. Tentu saja dia tidak akan mendengarkannya, matanya rapat terpejam, mungkin tertidur.

 

namun saat aku hendak melangkahkan kakiku hendak keluar dari apartemen Sung Min, tiba-tiba dia bangkit terduduk dan segera menangkap kakiku erat. Aku tersentak karena terkejut, apa yang diinginkan pria ini?

 

“Mianhae…” racaunya. “Mianhae….jangan pergi….Mianhaeyo…” ulangnya dengan suara tercekat.

 

aku memutarkan tubuhku untuk melihat ke arah Sung Min dan dia terus mempererat lengannya mengitari kakiku hingga membuat aku nyaris terjatuh, terhempas di sofa dengan posisi terduduk.

 

Sung Min beringsut maju hingga bersimpuh di kakiku, dia merebahkan kepalanya di atas pahaku dan tangannya mengunci kedua betisku erat. Tampaknya kini aku terjebak, dengan posisi seperti ini—membuatku tidak bisa beranjak. Aku menghela nafasku untuk menenangkan hatiku yang berdebar karena keterkejutan tadi.

 

terus terang aku sempat berpikir yang tidak-tidak. Sungguh mengerikan bila ternyata Sung Min berniat buruk dan memperlakukan aku tidak sewajarnya. Tapi perasaan itu menghilang dengan sendirinya saat aku menyadari Sung Min malah dengan nyamannya tertidur di pangkuanku.

 

****

 

( SHIN MIN KI )

 

Jam di nakasku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, tapi belum ada tanda-tanda Yoon Hee pulang. Aku memutuskan untuk menunggunya datang di ruang tamu sambil menulis jurnal yang sudah menjadi kebiasaanku.

 

Hal pertama yang kutulis adalah….

pertemuan tak terdugaku dengan Mr. X, aku sampai geli sendiri bila mengingat kejadian memalukan siang tadi. Sehingga momen ini patut dijadikan point penting.

 

Hal kedua….

Kyu Hyun mentraktirku makan siang! Meminjamkan mantel nya serta mengkhawatirkan benjolan di kepalaku. Dia bahkan bersikeras membawaku ke rumah sakit untuk di scan karena takut bila aku terkena geger otak atau apa? Hah…yang benar saja, sebuah benturan kecil tidak akan menimbulkan tengkorakmu pecah. Memangnya dia pikir aku ini pemilik tulang rapuh?

Tapi harus aku akui, aku sangat tersanjung dengan sikap perhatiannya Kyu Hyun.

 

Hal ketiga….

ini yang membuatku terkekeh sendiri, permintaan Mr. Giuseppe yang memintaku menjadi mata-mata Kyu Hyun. Astaga, mungkin inilah yang disebut cinta tak sampai….seorang maho yang jatuh cinta! Apa jadinya seandainya Kyu Hyun tahu tentang hal ini. Imajinasiku komediku segera menjalar liar, membuat perutku sakit menahan tawa.

 

Hal keempat….

Mulai besok kau akan sangat stylish, Minki! Lihat saja bagaimana reaksi Hea In-shi dengan perubahanku, kuharap matanya meloncat keluar bila melihatku.

 

Hal kelima…

Bunuh Yoon Hee!! Awas saja bila sepatu Marc Jacobs unguku lecet….aku harus membunuh adikku tersayang.

 

Selanjutnya aku menulis dalam jurnal tentang rencana kegiatanku besok.

 

Lalu aku mendengar suara hendel pintu dibuka dari luar, bisa kupastikan bahwa itu adalah Yoon Hee yang datang. Anak gadis macam apa yang tiba di rumah selarut ini? Dasar Nakal! Umpatku.

 

aku tahu Yoon Hee memang bekerja di café tapi seharusnya dia pulang bekerja jam 21.00 dan itu artinya dia seharusnya sampai di rumah paling lambat pukul 22.00. Wajar bila aku mengkhawatirkannya karena dia adalah adik perempuanku. Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya bila pulang terlalu larut.

 

bunyi langkah kaki Yoon Hee memasuki rumah semakin mendekat, aku segera memasang wajah marah maksimalku dan bersiap mengomelinya….

 

“Dari mana saja kau??” tanyaku extra galak “Dan mana sepatuku??” lanjutku menambah volume suaraku.

 

dan seperti kuduga Yoon Hee segera memasang wajah paling bersalah dan memohon untuk dimaafkan.

 

“Onnie…itu tadi….aku….” jawabnya terbata-bata dan serta merta dia segera berlari kabur menuju kamarnya tanpa sempat kutangkap.

 

Dia segera menutup pintu kamar dan menguncinya sehingga membuat kepalaku nyaris terantuk lagi.

 

“Yaaa….Yoon Hee!! Buka!!” Min Ki mengedor pintu.

 

“Selamat malam onnieku sayang….selamat tidur….” Balas Yoon Hee di balik pintu.

 

~ T B C ~

shin min ah – shin min ki

cho kyu hyun

song ji eun – shin yoon hee

yesung

lee sung min

3 Komentar

  1. DistyKyu

    Sapa kah Mr. x ituw!??
    bakal dilibatinkah dichap selanjutnya.. ato cuma ‘lewat’ doang?!!
    Kyuhyun kayanya suka ma min ki y, v minkinya lom nyadar…whuhuhu…
    penasaran sama kisah cinta yoon hee & Yesung!?!!!!
    dtunggu next chapter..
    fighting!!!

  2. Ly_Teuk

    Mr.x sapa?
    Penasaran!
    Ampe bisa bikin min ki lupa daratan,
    kyuhyun uda ada rasa kyak.a tu ama nuna.a,
    wkwkwk,
    suka bnget karakter yesung di sini dingin2 menggigit,
    #apadeh
    Lanjut thor!!
    ^.^

    • mr. x masih misterius…. hehe

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: